Jumat, 01 Maret 2013

KARENANYA



Sudah ku duga jika banyak tanda tanya pada mata - mata yang menatap kearah kami ketika aku sedang asyik berbagi cerita bersama ibundaku tersayang. Terik mentari yang begitu garang, seakan - akan juga menyapaku heran. Debu siang di pendopo alun - alun ini ramah mengakrabi wajah setiap peserta dan para undangan yang akan menerima penghargaan karena menjadi yang terbaik di bidang masing - masing. Namun angin yang garing siang ini turut berbisik...dengan siapa aku ngobrol...? Hehehe..rupanya dia belum tahu...
Keakrabanku dengan wanita di sebelahku sudah tak dapat diragukan lagi. Karena aku sangat mencintainya, menghormatinya, membanggakannya. Memang, aku harus menggunakan bahasa isyarat pabila harus bercakap - cakap dengan beliau....ibundaku yang penderita tunarungu.

Namun aku tak peduli, dan tak akan pernah peduli dengan tatapan mata penuh keheranan itu. Aku, Yunita Ekasari. Pelajar teladan tingkat menengah atas se kabupaten tempat aku dilahirkan. Sedang berkomunikasi dengan seorang wanita tunarungu, yang dengan kasihnya dapat mengantarku menjadi seorang pelajar teladan. Yang dengan perjuangan gigihnya, mampu membuatnya berbeda dengan penderita tunarungu sebayanya, teman - temannya. Patutlah beliau berbangga dengan hasil jerih payahnya. Terlebih pula aku...aku sangat membanggakan beliau yang mandiri dan tak mau dikasihani. Semua dilakukan sendiri dengan segala keterampilan yang dimiliki.

Tuhan, jika Kau ijinkan....
Ku ingin selamanya dapat mengukir senyum terindah di paras ayunya yang semakin menua dimakan masa.


Related Posts

2 komentar:

  1. postingan yang sangat indah dan bagus sekali sobat,
    terima kasih sudah berbagi

    BalasHapus